24 September, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Duh! Minggu Kedua April, Ada 5 Kematian Akibat COVID-19 di Sintang

Kematian Akibat COVID-19 di Sintang, salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) cukup tinggi pada minggu kedua April 2021. Tercatat, ada 5 kematian akibat virus corona itu.

_____________________________________________

kematian akibat covid-19
Kematian Akibat COVID-19 di Sintang, salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) cukup tinggi pada minggu kedua April 2021. Tercatat, ada 5 kematian akibat virus corona itu. | HeloBorneo.com — Ilustrasi (net)

 

SINTANG | Kasus COVID-19 di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengalami peningkatan, bahkan pada minggu kedua April 2021 ini sudah lima orang meninggal dunia akibat COVID-19 di daerah tersebut.

Melansir dari Antara, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Djoen Sintang dr Rosa Trifina MPH, di Sintang Kalimantan Barat, Senin (12/4/2021) mengungkapkan jumlah pasien yang meninggal di Sintang pada minggu kedua April ini.

Disampaikan Rosa, tren orang yang dirawat bukan karena COVID-19 semakin menurun, tetapi tren orang yang dirawat karena COVID-19 meningkat.

Angka kematian akibat COVID-19 tertinggi di Sintang

Lebih lanjut, Rosa mengatakan bahwa angka kematian akibat COVID-19 itu menjadi tertinggi di Sintang, Kalbar. “Pasien yang meninggal karena COVID-19 di minggu kedua April 2021 sebanyak lima orang. Ini menjadi angka tertinggi kematian di Sintang,” ujarnya.


kematian akibat COVID-19
HeloBorneo.com — Ilustrasi pemakaman kematian akibat COVID-19. (Foto: babel.antaranews.com/kasmono)

Menurut Rosa, tenaga kesehatan yang terkonfirmasi COVID-19 tiga bulan terakhir total 68 orang.

“Yang sekarang kami istirahatkan untuk 14 hari ke depan sebanyak 17 orang tenaga kesehatan, hal inilah yang menyebabkan kami harus menutup Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan menambah personil dari ruangan rawat jalan, tim manajemen kami siap dikerahkan jika memang nanti sangat darurat,” ucap Rosa.

Rosa menyebutkan orang yang terkonfirmasi COVID-19 itu rata-rata kasus berat dan kritis, bahkan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi juga meningkat.

“Kami baru saja merekrut 30 orang petugas kesehatan dan langsung bekerja. Solusinya menurut kami adalah sebaiknya rumah sakit lama kembali dibuka untuk merawat pasien COVID-19, meskipun ada kendala juga seperti sumber daya manusia, lokasi rumah sakit yang ada di tengah pemukiman,” jelas dia.

Solusi lain untuk menurunkan angka kematian akibat COVID-19, kata Rosa, khusus untuk pasien COVID-19 sampai situasi normal, sedangkan pasien non COVID-19 dialihkan ke rumah sakit lainnya atau puskesmas.

“Hanya saja akan bermasalah dalam pasien yang ditanggung BPJS,” tambah Rosa.

Ia berharap ada langkah serius dalam menangani persoalan tersebut terutama dalam memperketat pengawasan disiplin protokol kesehatan.

Dokter Spesialis Paru RSUD AM Djoen Sintang dr Handriyani, Sp.P juga menyampaikan kasus yang berat dan kritis semakin meningkat.

“Ada yang kami periksa enam orang, lima orang diantaranya positif COVID-19, Ruang Tembesuk sudah penuh yang memang merawat khusus yang agak parah. Energi tenaga kesehatan lebih terkuras karena memakai hazmat. Tenaga kesehatan di RITN sudah ada yang kami istirahatkan,” jelas dr Handriyani.

Ia mengatakan mau sebanyak apa pun kapasitas rumah sakit, tetap akan bertambah pasien COVID-19 kalau perilaku masyarakat tidak berubah.

“Kami juga mengharapkan perketat orang masuk ke Sintang. Kalau perlu yang akan ke Sintang wajib menunjukkan surat bebas COVID-19,” pinta Handriyani.

Ia juga dengan tegas minta agar Satuan tugas (Satgas) membubarkan kegiatan yang mengumpulkan massa. “Tenaga kesehatan kami pun terkonfirmasi karena biasa makan bersama saat jam istirahat,” cetus dia.

Bahkan Handriyani, mengatakan COVID-19 tidak akan mudah menular kalau kita menggunakan masker sehingga perlu dilakukan lagi razia masker lebih massive.

“Di pasar banyak penjual yang tidak menggunakan masker. Perketat prokes di rumah ibadah. Belajar masih harus tetap online. Tokoh masyarakat dan pejabat publik harus memberikan contoh dalam penerapan protokol dan pembatasan jam malam juga kami dukung,” kata Handriyani. (*) [HeloBorneo.com]

 

Bagi artikel ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share