Mon. Sep 21st, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Inovasi Guru Sanggau Manfaatkan Radio Jadi Media Belajar Mengajar di Perbatasan

3 min read
inovasi guru
HeloBorneo.com – Ilustrasi: proses belajar mengajar secara daring selama PSBB untuk memutus mata rantai pandemi covid-19 (Foto: covid.go.id)

SANGGAU | Inovasi guru dalam menghadirkan proses belajar mengajar di tengah pandemi covid-19 terus diupayakan. Terutama dalam rangka menghadirkan pemerataan pembangunan perbatasan bidang pendidikan. Pembangunan perbatasan ini wilayahnya cukup sulit untuk dijangkau.

Demi tetap menegakkan kegiatan belajar mengajar dari rumah sesuai anjuran pemerintah selama pandemi COVID-19, para guru Sekolah Dasar (SD) Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar) yang berbatasan langsung dengan Malaysia memanfaatkan jaringan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media pembelajaran karena keterbatasan jaringan internet di daerah itu.

“Di Sanggau ini letak geografisnya beragam, jadi tidak semua daerah yang mempunyai jaringan internet,” kata salah seorang guru SD Kabupaten Sanggau Titis Kartikawati dalam telekonferensi bersama para guru dan pegiat pendidikan yang disiarkan melalui Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Sabtu (2/5).

Inovasi Guru Lahir dari Beragam Tantangan

Selain letak geografisnya yang beragam, wilayah Kabupaten Sanggau juga banyak sekali titik “blank spot” sehingga anak didik tidak bisa mengakses internet untuk pembelajaran dalam jaringan (daring) yang dilaksanakan.

Melihat permasalahan tersebut pihak sekolah berkolaborasi dengan RRI setempat mengadakan program belajar melalui radio selama satu jam dengan bantuan para pendidik.

“Setiap Senin hingga Jumat kita bergantian, semua guru bisa memberikan materi sesuai apa yang mereka kuasai,” ujar guru kelas lima tersebut.

Titis mengatakan penerapan cara belajar menggunakan radio milik pemerintah tersebut cukup membantu proses belajar mengajar. Sebab akses radio dapat menjangkau semua daerah termasuk titik “blank spot” atau sekitar empat kabupaten di provinsi itu.

“Jadi daerah blank spot bisa juga mendengarkan materi yang kami berikan,” katanya.

Irit Biaya

Selain dapat menjangkau ke berbagai titik, penerapan cara belajar tersebut juga irit biaya. Sekolah atau para guru tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membeli paket data internet.

Apalagi sebagian besar wali murid di daerah itu bekerja sebagai buruh tani, sawit, pedagang sayur dan sebagainya sehingga cukup kesulitan apabila harus mengeluarkan biaya lebih pada anak mereka untuk membeli paket data internet.

Upaya yang sudah dilakukan Titis menjadi contoh yang baik dari penerapan empat elemen kebijakan yang diatur melalui Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dapat Apresiasi

Langkah inovasi guru dengan pemanfaatan jaringan radio di wilayah perbatasan dan kolaborasi antara guru, orang tua dan siswa merupakan kunci kesuksesan kegiatan belajar mengajar dari rumah. Tanpa adanya kolaborasi tersebut, pembelajaran di rumah yang menyenangkan sulit untuk dicapai.

“Kunci utama kesuksesan belajar dari rumah adalah komunikasi yang baik antara guru, orang tua dan siswa. Kolaborasi itu yang harus dibangun,” kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad.

Dalam telekonferensi terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Prof Unifah Rosyidi mendorong beragam upaya pembenahan yang perlu dilakukan terkait infrastruktur jaringan di antaranya akses internet dan listrik terutama di daerah pelosok, sehingga program kegiatan belajar mengajar di rumah selama Pandemi covid-19 dapat lebih maksimal.

“PGRI mengharapkan pemerintah agar lebih fokus menginvestasikan sarana dan prasana terutama listrik dan internet,” katanya. (Tim Komunikasi Publik GT Nasional/*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares