21 September, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Corona Varian Baru, Sutarmidji Sebut Sudah Terdeteksi di Kalbar Sejak Agustus

corona varian baru, sutarmidji, kalbar
heloborneo.com – ilustrasi. (Foto: 123RF)

PONTIANAK | Corona varian baru yang tingkat penyebarannya 10 kali lebih berbahaya saat ini ternyata sudah terdeteksi keberadaannya di Kalimantan Barat (Kalbar) sejak Agustus 2020 lalu.

Kabar mengejutkan ini disampaikan langsung Gubernur Kalbar, Sutarmidji saat menyampaikan perkembangan kasus Covid-19.

Menurut Sutarmidji, corona varian baru yang merupakan hasil mutasi varian sebelumnya itu sudah masuk Kalbar pada bulan Agustus 2020 lalu. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ada satu sampel yang ditemukan.

Corona varian baru lebih cepat menyebar 

“Varian virus ini menurut ahli 10 kali lebih berbahaya tingkat penyebarannya dan membahayakan. Karena pembawa virus ini diindikasi dari satu klaster yang ada meninggal,” ujar Sutarmidji kepada wartawan, Senin (28/12/2020).

Mantan Wali Kota Pontianak ini mengatakan, antisipasi masuknya varian virus corona baru ini menjadi satu di antara pertimbangannya memperketat aturan masuk ke Kalimantan Barat.


Berita terkait:

Fransiskus Diaan Imbau Masyarakat Kapuas Hulu Waspadai Varian Baru COVID-19


 

Sebelumnya, Gubernur telah membuat aturan yang mengharuskan calon penumpang pesawat tujuan Kalbar mempunyai keterangan negatif hasil swab test PCR.

Padahal Kementerian Perhubungan hanya mensyaratkan rapid test antigen. Gubernur Sutarmidji mengatakan awalnya Kalbar sudah mematuhi untuk menggunakan rapid test antigen untuk syarat masuk Kalbar.

“Lalu kita adakan kontrol dengan mengambil sampel di beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air kita ambil tidak ada yang positif artinya bagus begitu juga Nam Air dan Garuda,” lanjut Politisi PPP ini.

Namun, setelah dilakukan pengambilan sampel pada Maskapai Batik Air ditemukan lima penumpang yang positif. Ia menegaskan terhadap 5 penumpang yang positif Covid-19 ada indikasi surat keterangannya palsu.

Sebab dengan CT 28 dan viral load di atas 600 tidak mungkin lolos tes antigen. Terhadap kondisi ini, dikatakannya sangat berpotensi untuk menjangkiti orang lain.


Corona Varian Baru, Sutarmidji, Kalbar
HeloBorneo.com – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji. (Foto: net)

“Saya paham bukan wewenang saya sebagai Gubernur Kalbar untuk melarang terbang, tapi ingat kita hanya melarang membawa penumpang ke Pontianak. Kalau mau bawa penumpang dari Pontianak ke luar silahkan sesuaikan tempat tujuannya,” tegas H Sutarmidji.

Gubernur H Sutarmidji mengatakan dirinya juga tidak mungkin menyulitkan daerah lain misalnya daerah itu menggunakan kebijakan wajib rapid antigen.

Maka ketika berangkat dari Pontianak ke daerah tujuannya yang menerapakan kebijakan antigen boleh menggunakan rapid antigen ketika ingin terbang.

“Misalnya Bali itu harus swab PCR dan kita di Kalbar pakai swab PCR juga masuk Pontianak karena ada indikasi seperti tadi maka harus PCR sampai 8 Januari 2021,” tegas H Sutarmidji.

Keputusan ini dikatakannya tidak semata-mata diambil karena terburu-buru atau tanpa alasan. Sebab ketika menerapkan rapid test antigen, ternyata masih ditemukan lima penumpang positif Covid-19 ketika dilakukan swab PCR secara acak di Bandara Supadio.

Ia mengatakan dalam hal ini seharusnya yang harus diatur adalah SOP-nya supaya tidak ada indikasi pemalsuan surat. Ketika ditemukan ini harusnya diberi sanksi.

“Terhadap hal ini siapa yang yang harus bertanggung jawab di Bandara kalau sampai terjadi ada indikasi pemalsuan surat keterangan antigen. Siapa yang tanggung jawab tidak ada,” tanya Sutarmidji.

Ia mengatakan terhadap lima orang penumpang yang dinyatakan positif sudah diisolasi semua. “Suratnya akan kita lihat yang viral load tinggi kemungkinan kita akan investigasi kalau terbukti palsu maka akan dipidana,” tegasnya.

Gubernur Sutarmidji mengatakan pernah ditemukan sampai 18 miliar copies virus, dan dia bisa sembuh kalau tidak ada komorbid. Namun biaya untuk penyembuhannya besar bahkan ada sampai dirawat 53 hari dengan tagihan mencapai Rp 478 juta sampai sembuh.

“Ini yang harus kita jaga ada yang bilang baru sekarang kalot, karena kita menjaga maka kita seperti ini. Sekarang sudah bagus tiga hari ambil sampel tidak ada kejadian. Artinya bisa kan,” katanya.


corona varian baru, sutarmidji, kalbar
HeloBorneo.com – Ilustrasi: pengambilan sampel dalam pelaksanaan rapid test. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

Varian baru yang masuk Kalbar adalah hasil mutasi

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Harisson mengungkapkan corona varian baru yang masuk Kalbar adalah mutasi virus corona D614G pada virus SARS-CoV-2.

“Varian baru corona ini berbeda dengan varian baru asal Inggris yaitu B117, yang saat ini juga sedang diantisipasi masuk ke Indonesia,” kata Harisson.

Menurut Harisson, virus corona D614G telah masuk ke Kalbar sejak Agustus 2020 yang dibuktikan dengan ditemukannya satu sampel berdasarkan pemeriksaan Genetik Sains Indonesia di Jakarta.

Harisson mengatakan bahwa Laboratorium Untan telah mengirim 11 sampel ke Genetik Sains Indonesia di Jakarta. Sampel yang dikirim adalah sampel dari Agustus sampai November yang mempunyai viral load tinggi.

Saat ini dari 11 sampel yang telah dikirim telah dikembalikan lagi ke Untan dengan hasil satu di antaranya ternyata adalah virus D614G yang merupakan mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2.

Adapun sampel yang dikirim ke Jakarta untuk diperiksa diambil acak terhadap kasus positif Covid-19 yang mempunyai viral load tinggi mulai dari jutaan hingga miliaran copies.

Ia mengatakan, virus corona D614G secara nasional sudah menjadi pembicaraan. Virus itu ternyata sudah masuk Kalbar sejak Agustus 2020, dari warga Jakarta yang datang ke Pontianak untuk menghadiri pernikahan.

“Sehingga kalau di analisis dengan adanya virus D614G kasus kita langsung melonjak. Virus ditemukan berasal dari orang yang baru datang dari Jakarta dan ada kunjungan pernikahan di Pontianak dan sempat berkumpul dengan keluarganya bahkan sempat ada satu meninggal karena virus ini,” jelas Harisson.

Ia menjelaskan Virus D614G sebenarnya sama seperti virus lain, tetapi lebih mudah menempel yang menyebabkan mudah menularkan pada orang lain.

“Memang virus ini tidak lebih ganas, tapi karena dia lebih mudah menular maka pada kasus yang ada komorbid akan mudah tertular yang kemudian bisa menyebabkan kasus yang dirawat di rumah sakit meningkat dan yang mempunyai komorbid banyak meninggal,” jelasnya.

Harisson mengatakan, saat tidak bisa memetakan satu-satu dari kasus konfirmasi mana yang telah bermutasi. Namun yang jelas virus D614G ternyata sudah masuk Kalbar dari Agustus.

“Memang sejak Agustus ternyata kasus di Kalbar meningkat drastis. Ini juga yang terjadi di Surabaya yang menyebakan kasus benar-benar tidak terkendali, untungnya di Kalbar begitu masuk sempat naik drastis dan bisa mengendalikan penyebarannya,” ujarnya.

Ia mengatakan corona varian baru yang merupakan hasil mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2 juga saat ini terjadi di Yogyakarta yang kasusnya sedang meningkat yang disebabkan oleh virus D614G.

Maka dari itulah, Harisson mengungkapkan temuan ini menjadi satu di antara alasan Satgas Covid-19 Kalbar memperketat jalur masuk ke Kalbar lewat Bandara Supadio dengan menerapkan swab PCR harus negatif.

“Jadi untuk syarat terbang ke Kalbar harua PCR negatif karena kita tidak ingin virus yang dari pulau Jawa terjadi penyebarannya ke Kalbar,” ujarnya.

“Belum lagi yang harus juga diwaspadai yakni strain baru dari Inggris yakni B117 yang merupakan Covid-19 yang berada di luar Kalbar,” tegasnya.

Sedangkan untuk gejala corona varian baru yang ditemukan di Kalbar, sama seperti yang ditemukan di daerah lain mulai dari batuk, demam, hilang penciuman bahkan sampai menyerang organ lain sampai ke otak.

Namun, dirinya mengatakan bahwa corona varian baru walau lebih mudah menyebar, tapi selain itu tidak berbeda dengan virus aslinya yang sama-sama mematikan.

“Virus baru ini sama saja hanya lebih mudah menyebar kepada orang lain jadi yang jadi masalah orang yang punya komorbid mudah terjadi penularan yang bisa menyebabkan sesuatu yang fatal,” katanya.

Ia mengatakan, Satgas Covid-19 di Kalbar tetap akan menjaga dengan mengungkapkan kalau ada pelaku perjalanan yang akan masuk ke Kalbar harus menunjukan hasil swab PCR negatif di Bandara Supadio Pontianak.

Kalau nanti maskapai penerbangan masih mengangkut penumpang yang tidak menunjukkan swab negatif, maskapai itu akan didenda sesuai Pergub sebesar Rp 5 juta dan dilarang membawa penumpang ke Kalbar maksimal 10 hari. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share