HeloBorneo.com, Malaysia diketahui pernah menghadapi invasi ikan sapu-sapu secara masif, jauh sebelum Indonesia. Warga di Kuala Lumpur bahkan berhasil menangkap hingga 31 ton ikan sapu-sapu dari sungai-sungai setempat saat periode COVID-19. Situasi ini mengancam keberlangsungan ikan asli di perairan Malaysia.
Informasi mengenai invasi ini disampaikan oleh Triyanto, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN. Menurut Triyanto, masalah ikan sapu-sapu telah lebih dulu dialami Negeri Jiran, dua tahun sebelum Indonesia. "Tetangga kita ini udah duluan kena masalah," kata Triyanto dalam Media Longue Discussion di Gedung BJ Habibie BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (30/4). Dia menambahkan, "Dia menangkap sampai 31 ton."
Berdasarkan laporan Aljazeera, invasi ikan sapu-sapu di Malaysia mulanya datang dari para pecinta ikan hias. Ikan-ikan ini kemudian dilepas ke alam bebas, lalu berkembang biak dan mengancam populasi ikan asli. Masyarakat setempat merespons dengan mengadakan perburuan ikan sapu-sapu secara rutin setiap minggu selama periode COVID-19. Total, 31 ton ikan sapu-sapu berhasil terkumpul dari berbagai sungai di ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur.
Direktur Jenderal Departemen Perikanan Malaysia, Adnan Hussain, menyatakan berbagai langkah telah diambil untuk mengurangi invasi ini. Salah satunya adalah dengan melepaskan sekitar 33,6 juta ikan dan udang asli ke sungai-sungai di seluruh wilayah Malaysia, program yang berlangsung dari tahun 2021 hingga 2025.
Sementara itu, pada akhir 2024, pemerintah negara bagian Selangor juga membuat skema pembayaran bagi para pemancing. Pemancing akan dibayar satu ringgit Malaysia atau setara Rp 4.369 untuk setiap kilogram ikan sapu-sapu yang diambil dari dua sungai. Ikan yang terkumpul rencananya akan diolah menjadi pakan ternak dan pupuk organik.
Sulitnya Membasmi Ikan Sapu-sapu
Namun, pembasmian ikan invasif ini dianggap hampir mustahil, menurut Profesor Amirrudin Ahmad, peneliti ikan dari Universiti Malaysia Terengganu. "Begitu banyak spesies yang hidup (di perairan asli), dan menyingkirkan spesies invasif dengan cara meracuni air sama sekali tidak mungkin," ujarnya seperti dikutip dari Aljazeera.
Kenaikan suhu yang disebabkan oleh perubahan iklim juga memperparah kondisi. Hal ini memungkinkan spesies predator seperti ikan lele ekor merah Mekong untuk berkembang biak di perairan hulu Malaysia yang lebih dingin. "Mereka akan tetap berada di sini," kata Amirrudin. Dia menjelaskan, "Sederhananya, lingkungan di sini sebagian besar mirip dengan negara asalnya, atau spesies-spesies ini sangat mudah beradaptasi."