HeloBorneo.com, Balikpapan – Tren ajakan untuk menghentikan aktivitas memeluk dan mencium bayi saat Lebaran semakin ramai di media sosial. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan penyakit seperti campak dan influenza, yang dinilai efektif oleh praktisi kesehatan. Dokter Anton D Saputra, SpA, AIFO-K, menegaskan risiko penularan penyakit via droplet dari kontak fisik tersebut.
Momen Lebaran seringkali diwarnai keinginan banyak orang untuk memeluk dan mencium bayi yang menggemaskan saat bersilaturahmi. Namun, belakangan ini, template story Instagram yang mengajak untuk menghentikan kebiasaan tersebut menjadi viral. Tujuannya jelas, yakni menghindarkan si kecil dari potensi penularan penyakit seperti campak dan influenza.
Dikutip dari detikHealth, praktisi kesehatan dr Anton D Saputra, SpA, AIFO-K, menyatakan tren ini sangat efektif. Menurutnya, campak merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular.
"Khusus untuk campak, kenapa infeksius banget? Campak itu nularin bahkan 4 hari sebelum ruamnya muncul," kata dr Anton pada Jumat (13/3/2026). Ia menjelaskan adanya fase prodromal, di mana pasien bisa demam 2-3 hari sebelum ruam, disertai gejala 3C: cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah).
Dr Anton juga menekankan, pasien campak termasuk balita dapat menularkan virus dalam satu hingga dua hari pertama. Penularan ini bisa terjadi meski pasien tampak sehat.
"Campak itu penyakit yang sudah lama ada, dan sudah ada vaksinnya," ujarnya. Namun, ia menambahkan, Indonesia sempat kecolongan saat pandemi akibat angka imunisasi yang menurun, serta gencarnya gerakan anti-vaksin.
Lebih lanjut, aktivitas mencium, memeluk, dan menggendong bayi berisiko menularkan berbagai penyakit lain yang menular lewat droplet. "Batuk pilek kan kita nggak tahu nih, apakah kita bersih atau nggak kan," pungkas dr Anton.